Surga Kepulauan Raja Ampat

Oleh: Carmen

Aku pernah bilang belum ya, kalau tempat liburan paling berkesan buatku dan partner adalah tempat-tempat menakjubkan di tanah air sendiri?

Sebagai yang sudah cukup lama “kabur” dari negeri sendiri dan membangun kehidupan di tempat lain lewat perjuangan dari bawaaahhh banget, justru yang membuat kami selalu kepincut adalah kampung halaman tercinta Indonesia. Terlebih lagi setelah liburan baru-baru ini yang kami lalui di… Raja Ampat!

Surga dunia ini diperkenalkan oleh temanku yang kebetulan orang Papua (dengan ciri-ciri jomblo, lesbian, kulit gelap tapi cantiiikk dan langsing. Dia minta disebut di sini hehe. Thanks, dear!). Letaknya 90-120 menit perjalanan memakai kapal dari Sorong, propinsi Papua Barat.

Untuk transportasi menuju Sorong, bisa naik pesawat dari Makassar (bagi yang dari Jakarta/Surabaya/sekitarnya) atau Manado (bagi yang dari Singapore/Filipina/sekitarnya). Tapi kalau mau jalan-jalan dulu keliling Papua juga bisa. Sebelum berlibur ke Raja Ampat, kami kebetulan kerja sosial dulu Natalan di rimba pegunungan tengah Papua. Dari situ kami ke Timika (propinsi Papua), menuju Manokwari (ibukota propinsi Papua Barat), baru setelah itu ke Sorong. Umumnya transportasi di dua propinsi yang super besar ini adalah lewat udara.

Sesampai di Sorong, kami menginap semalam, baru besok paginya ke Raja Ampat. Ada beberapa pilihan hotel. Yang kami inapi adalah the Luxio (lihat website di bawah). Aku sendiri tidak menyangka bahwa di sini ada juga kamar suite yang bagus seperti adanya kolam renang pribadi; dan memiliki fasilitas modern, seperti jaringan internet yang cepat. Sangat nyaman bagi yang lelah bepergian jauh!

Pagi-pagi, kami berangkat bersama-sama menaiki kapal temanku, sekitar 90 menit menuju Kepulauan Raja Ampat. Karena perjalanan santai, kami memutuskan untuk memancing dahulu di laut dalam. Airnya biru gelap tapi jerniiiihhhhh sekali, teman! Sejauh mata memandang yang terlihat adalah pemandangan laut minus kebisingan, seperti di dunia lain.

Menjelang siang, kami tiba di Sorido Bay Resort, sebuah resor di pulau kecil yang menakjubkan. Merapat ke pulau, kita bisa melihat karang-karang dan ikan-ikan yang tampak jelas saking jernih lautnya. Terus terang waktu melihat pertama kali aku langsung pengen terjun berenang.

Setelah merapat, dengan berjalan kaki 30 meter di jembatan kayu, kami disambut dengan sajian minuman dingin buah-buahan tropis. Segar! Setelah itu kami serombongan diantar ke bungalo masing-masing. Hanya ada 12 bungalo di resor ini, dengan fasilitas yang cukup (ada sinyal hape dan internet). Aku dan partner menempati satu bungalo sendiri yang berukuran cukup luas, dengan pantai pasir putih pribadi dan pemandangan laut lepas (lihat foto). Romantis ya? (super pamer hihihi).

Karena pengunjung tidak terlalu banyak, kami dengan cepat menjadi akrab dengan pengunjung lainnya. Kali itu semuanya adalah wisatawan manca negara, kecuali rombonganku. Semua pengunjung berkumpul dan ngobrol setiap makan pagi, siang, dan malam yang disediakan oleh resor berupa buffet. Makanannya variatif dan enak-enak, kebanyakan masakan autentik Indonesia. Yang super spesial buatku adalah sambal dabu-dabu-nya yang pedas. Yum! Maklum, buatku makanan adalah salah satu faktor paling menentukan dalam menilai kualitas liburan.

Intinya kami semua ada di sana untuk menikmati rekreasi bawah laut Raja Ampat. Bagi yang tidak bisa diving sepertiku, tidak perlu khawatir, karena snorkelling saja juga sangat memuaskan! Bayangkan, snorkelling mengelilingi karang-karang bagian luar resor juga bisa, tidak perlu naik perahu lagi. Yang luar biasa adalah ikan-ikannya. Beneran banyaaaakkk banget ikan warna-warni. Karang-karangnya juga warna-warni, banyak bintang laut, dan beberapa kali aku bertemu penyu. Suatu kali waktu snorkelling dekat resor, aku bertemu penyu yang waktu didekati dan dipegang, dia tidak pergi. Kasihan ternyata satu kaki depan si penyu itu buntung. Rada sulit menghampiri si penyu untuk kedua kali (menyelam cuma pakai peralatan snorkelling itu rada ribet lho!), jadi terakhirnya waktu dia pergi, aku cuma melambaikan tanganku. Itulah petualanganku bersama penyu kaki buntung!

Untuk yang suka diving, seperti partnerku yang gila menyelam, katanya seperti ke surga. Alam bawah lautnya memang termasuk liar saking tidak pernah “tersentuh”-nya (kata partner, reef hooks itu dipakai terus lho waktu ada arus), jadi bagi inexperienced divers, mungkin perlu ada teman ahli yang menemani. Yang jelas, waktu selesai menyelam pertama, partnerku berkali-kali bilang, “Ikannya banyak. Parah. Ikannya banyak. Parah,” seperti kaset rusak. Setelah itu, menyelam buat dia seperti minum obat—3 kali sehari: pagi, siang, malam. Katanya dia paling excited waktu berenang sama ikan-ikan manta—sejenis ikan pari yang panjangnya 5 meter. Ketemu hiu kumis yang tidak menggigit, lihat giant clam, ketemu hiu-hiu kecil, dan ikan-ikan berbagai jenis yang berenang beriringan seperti warna-warni pelangi.

Bagaimana dengan para non-divers seperti aku? Oh, kami juga mengalami masa-masa menyenangkan dengan ber-snorkelling. Itu pun saja tidak habis-habis indahnya sampai kecapekan berenang. Kalau sudah mulai capek, biasanya kami meminta izin sama para guide yang kebanyakan orang Papua yang baik-baik, untuk pindah kapal pakai kapal teman, dan bertepi sebentar ke pantai putih terdekat. Kami berjemur, menyiapkan makanan ringan untuk para kekasih yang lagi menyelam, foto-foto, baca buku, dan lain-lain.

Kami juga mendarat di pantai pasir putih yang muncul dari laut saat air surut. Itu lho, indahnya pantai seperti yang di film Narnia.

Nah masalahnya adalah para penyelam ini juga sampai malam-malam pun mereka pasti akan berenang. Tergantung keahlian kita, bagaimana membujuk pasangan supaya tidak berenang melulu. Lagi pula, untuk menyelam perlu kondisi fisik yang sangat fit, jadi istirahat dan asupan makanan juga penting! Apalagi kalau judulnya honeymoon, tidak baik berenang malam-malam dan kecapekan (heh heh). Apalagi kalau tiap pagi, kita disuguhi pemandangan matahari terbit di depan mata.

Kami juga mengelilingi beberapa resor lain. Yang kurekomendasikan juga adalah Kri Eco Resort (lebih murah tapi lebih autentik Papua, karena kita bisa tidur di rumah kayu di atas laut—bisa langsung nyebur, dan suara laut dan ikan-ikan berenang bisa kelihatan di sela-sela kayu lantai kamarmu. Wow!) dan Raja Ampat Dive Lodge (resor baru, gaya Bali yang keren banget—lihat foto).

Tips dan trik: Tidak ragu untuk memperlengkapi diri dengan pengetahuan tentang Raja Ampat adalah hal yang penting. Survei semuanya secara sistematis, karena akan berada di tempat yang tergolong cukup terisolasi dari dunia luar. Jangan lupa juga bawa bikini, peralatan snorkelling dan diving, obat-obatan pribadi, krim lotion spf 50 sekalian yang waterproof, alat-alat perawatan muka, dan jangan lupa juga bawa conditioner termantap yang kamu punya! Karena di resor-resor seperti ini, airnya masih ada asin-asinnya, jadi bisa menyebabkan rambut kering. Agar tidak rusak rambutnya, pakai conditioner banyak-banyak. Setiap pergi berenang, jangan lupa bawa air minum juga. Kok aku merasa seperti nenek-nenek cerewet. Ah biarin, niatnya kan baik ?

Lagi-lagi, untuk rencana perjalanan, sebaiknya disiapkan sebaik-baiknya. Kalau punya teman orang Papua sepertiku, perjalanan bisa dipersiapkan sendiri. Namun bila tidak, ada baiknya mencari tour guide yang berpengalaman, atau bisa lewat resor-nya (lihat website di bawah).

Sepulang dari sana, aku kaget saat partnerku dengan rambut panjangnya yang mengkilap (berkat conditioner-ku!) tanpa hujan tanpa angin bertanya kepadaku, “Sayang, kamu pingin balik tinggal di Indonesia, nggak?” Aku tertawa, dan cuma menjawab, “Siapa takut.”

Tidak ada yang bisa menghalangi mimpi dan niat baik perempuan lesbian—ada mimpi, kita kejar! Dan yang mengejutkan, Tuhan selalu membawa kami berdua ke tempat-tempat yang indah di bumi. Bagaimana denganmu? *wink

@Carmen, SepociKopi, 2011

Detail tentang Raja Ampat
http://en.wikipedia.org/wiki/Raja_Ampat_Islands

Resorts & Tour Guides di Raja Ampat:
http://www.iriandiving.com/Main-page.html
atau
http://www.komodoalordive.com/RajaAmpatDiveLodge.htm

Hotel di Sorong: www.theluxio.com

Romantisme Pulau Dewata

widjaOleh: Carmen

Stress menumpuk, jenuh dengan kehidupan sehari-hari, dan ingin berduaan dengan pacar di sebuah dunia lain? Aku dan partner berlibur ke Pulau Dewata di tanah air.

Beberapa bulan terakhir aku dan partnerku merasa tertarik saat membaca beberapa artikel di SepociKopi tentang penulis yang berbulan madu buka-bukaan di salah satu kota di Jawa Barat dan juga artikel tentang rasa takut karena dikira lesbian.

Setelah mengalami long-distance relationship beberapa bulan dengan partner, kami merasa tertantang dan memutuskan untuk liburan juga. Tema kali ini adalah liburan yang "rada buka-bukaan", standar orang yang tidak coming out kepada dunia seperti kami berdua.

Partnerku mengusulkan untuk menginap di tempat yang belum pernah kami injak di Bali. Maka atas usul temanku, kami memutuskan untuk menginap di Desa Seni, sebuah village resort eksklusif di daerah Canggu (arah Barat Kuta). Pengaturan penginapan kami lalui lewat internet di website-nya (lihat di bawah). Dan selama komunikasi lewat email, pihak resor menawarkan paket-paket tour tema romantis untukku dan partner.

hippie vanDi bandara, kami dijemput oleh pihak resor menggunakan semacam hippie van yang berwarna biru muda mencolok.

Perjalanan dari bandara Ngurah Rai ke Canggu memakan waktu sekitar 25 menit. Untuk mencapai ke Desa Seni, mobil harus melalui jalan-jalan kecil dan sempit selama 10 menit. Rasanya, sepanjang jalan kita dibawa ke dunia lain dari Bali yang masih asri. Di kanan kiri jalan, banyak tanaman padi kekuning-kuningan, tanda hampir panen.

Plang resornya sederhana di pinggir jalan kecil, dan pada saat van memasuki pekarangan, payung tradisional warna-warni menyambut kami. Kesan pertama adalah, tempat ini unik sekali! Unik tapi gaya. Ternyata Desa Seni adalah sebuah "desa" yang terdiri dari 10 rumah antik dari kayu. Rumah-rumahnya didatangkan dari rumah hunian tua asli dari pulau-pulau di Indonesia, kebanyakan dari Jawa. Misalnya, ada rumah yang sudah ada sejak awal tahun 1900, namun sudah di-refurbished dan didesain ulang.

shiva1Kami mem-booking "rumah" yang paling kecil dan paling murah di sana. Dan hasilnya, we loved it!

Rumah yang tua itu biasanya berkesan suram dan gelap. Namun rumah kami malah terang karena permainan warna dari interiornya. Di dalam rumah juga ada peralatan modern seperti AC, TV, telepon, sambungan internet, dan lainnya.

yogabanner1Desa Seni juga dilengkapi kolam renang, rumah spa, dan rumah yoga. Pelayanan spa-nya memuaskan, kami berkali-kali kesana untuk sekedar pijat, ear candling dan manicure-pedicure. Khusus untuk penghuni, ada gratis pelajaran yoga setiap hari.

Makanan yang tersedia kebanyakan organik; dari bumbu-bumbu dan sayuran yang ditanam sendiri disana. Misalnya, kami mencicipi sawi spring roll (spring roll, tapi kulitnya sayur sawi) yang sehat, dan makanan lain yang umum seperti soto ayam rasanya sangat segar dan enak.

storybanner1Pagi-pagi, kami ke pantai yang jaraknya kira-kira 10 menit dengan bersepeda santai. Sepeda disediakan gratis untuk penghuni. Pada waktu bersepeda, kami melewati jalan-jalan kecil yang kanan kirinya sawah-sawah; dan di pantai yang perawan, nyaris tidak ada grup disana (entah karena masih pagi jam 7 atau memang selalu sepi). Namun selalu ada satpam/penjaga dari resor yang stand by untuk menjamin keamanan dan kebutuhan penghuni.

Yang terpenting adalah, selama nyaris seminggu tinggal, tidak ada yang berkomentar atau memandang berlebihan saat kami bergandengan tangan saat berjalan bersama, atau pada saat aku memeluk partner di pinggir kolam. Awalnya deg-degan melakukannya, tapi lama kelamaan jadi ketagihan (dengan catatan, tidak berlebihan).

Di Bali, dengan tour dari resor, kami berjalan-jalan ke Ubud melihat-lihat galeri lukisan dan shopping tentunya; ke Uluwatu melihat monyet, pura, dan tari Kecak; menyusuri pantai Kuta saat matahari hampir terbenam; berbelanja kerajinan perak di Celuk yang buka 24 jam; hingga shopping sepanjang hari di Seminyak.

kura-kuraUntuk makan malam, makan di resto seafood di Jimbaran menjadi pilihan. Kami juga mencoba fine dining di Kura-Kura Restaurant, The Oberoi Hotel-Seminyak.

Suasananya romantis dan terkesan discreet karena di udara terbuka (dengan atap alang-alang), serta di keheningan malam sayup-sayup ada suara ombak. Makanannya juga lebih dari ekspektansi kami. Untuk makanan utama, Matsuzaka beef steak-nya menurutku sangat out of this world! Partnerku memilih menu ikan Cod yang juga sangat enak. Menu appetizers dan desserts-nya juga enak-enak.

Pilihan yang lebih casual namun tetap romantis adalah di Chandi restaurant di Seminyak yang menyediakan makanan organik yang enak-enak pula. Di Bali banyak makanan enak!!

ayana-spa-wine-treatment-2Hari terakhir di Bali, sebelum kembali ke dunia nyata, aku mengajak partner untuk ke spa lagi. Kali ini pilihanku jatuh pada The Ayana Spa di Jimbaran, karena dapat penghargaan No.1 menurut Conde Nast Traveller Readers' Spa Awards 2010.

Tidak kalah nekat seperti sebelumnya, aku mendaftarkan kami berdua untuk mengikuti "Blissful Love Treatment Spa Package". Gila, kelihatan tidak, kami lesbian dari judul paketnya? Entah karena parno atau bukan, kami pasrah karena dari awal ceritanya kepingin merasakan dunia coming out sedikit-sedikit.

Ternyata kami tidak menyesal, karena treatment-nya sangat membuat rileks. Kami dibawa ke sebuah vila khusus untuk dua orang. Dimulai dari mencuci kaki dengan bunga, pelumuran handuk hangat, terapi boreh, mandi bunga dan herbal, serta pijat anti-stress, semua terasa memuaskan. Terakhir adalah terapi facial menggunakan bahan-bahan natural, seperti masker telur dan madu (benar-benar raw telur dan madu), toner berupa lavender dan jeruk, dan scrub yang menggunakan jagung dan yoghurt. Saat dilumuri bahan-bahan tersebut, aku menahan diri untuk tidak menjilat mukaku sendiri! Hehehe.

Kesimpulan yang didapat dari pengalaman coming out kecil-kecilan ini adalah banyak sekali saat-saat menyenangkan, namun ada pula saat-saat deg-degan dan menegangkan. Ada hal-hal yang terasa di luar kontrol kita. Contoh yang menegangkan, untuk penderita sesak napas sepertiku, awalnya agak membikin batuk-batuk dan napas kecil-kecil pada saat mandi berdua di bath tub pakai bunga-bunga mawar saat spa (deg-degan gimana kalau ketahuan); atau pada saat orang tour nya mulai tanya-tanya detil urusan pribadi. Senjata kami adalah, pasang senyum dan mengalihkan pembicaraan, atau jawab sekedarnya. Senjata terakhir adalah, menikmati momen yang ada. Secara garis besar, orang-orang Bali sangat ramah dan cukup terbuka.

Saat-saat terakhir di bandara Ngurah Rai, partner melihatku yang bermuka sedih. Perjalanan yang menyenangkan itu harus berakhir. Namun ia memegang tanganku diam-diam sambil membisikiku, "Sayang, kita kerja keras lagi, biar bisa liburan lagi."

How i love her, Lord.

@Carmen, SepociKopi, 2010

www.desaseni.com

http://www.chandibali.com/

http://www.ayanaresort.com/en/spa/

Museum Jamu Semarang: Simpanan Kekayaan Obat Indonesia


Oleh: Rosallyn T.

Jamu, kata-kata itu mungkin sudah jarang terdengar di telinga kita. Tergusur dengan kehebatan paracetamol, amphetamine dan lainnya yang tersedia di apotek. Padahal jamu adalah obat tradisional asli Indonesia. Ramuannya terbuat dari bahan-bahan alami yang menyehatkan. Saking tradisionalnya, jamu identik dengan ”embok” gendong tua. Beberapa orang mengasosiasikannya dengan warung obat kuat yang menjual alat plus-plus. :)

Namun stigma itu berubah begitu saya mendatangi museum jamu. Tempat ini merupakan salah satu heritage Semarang. Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara digiring untuk mengunjunginya. Meskipun pelayanannya tidak terlampau profesional tapi cukup menghibur pengunjungnya.

Pertama-tama rombongan diajak untuk memasuki lobby. Kesan yang saya tangkap adalah aroma bunga, rempah bercampur baur khas jamu. Sambutan hangat meja resepsionis melengkung dengan mbak penjaga tersenyum manis menyilahkan mengambil brosur. Para pengunjung bergantian mengambil semua kertas kecil yang ada. Isinya sejarah museum, jenis-jenis jamu, yang di sayangkan tidak dicetak dalam bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Hanya bahasa Indonesia, tapi saya bersyukur minimal tidak tertulis dalam bahasa kawi (jawa kuno).

Penjelajahan selanjutnya ke ruang utama museum. Kita menaiki anak tangga berbahan dasar kayu yang cukup tinggi. Warna Kuning menjadi pilihan untuk pencahayaan. Lampu gantung ditambah cahaya dari luar jendela yang mengintip pelan-pelan membuat tampak artistik. Sehingga benda-benda di ruangan secara tidak sengaja terlihat eksotis.

Namun tetap kesan dingin dari rumah lama tidak bisa hilang begitu saja. Foto pendiri museum ini terpampang besar-besar. Beliau adalah seorang nyonya kelahiran Sidoarjo kemudian di boyong oleh suaminya ke Semarang. Orang-orang kerap memangilnya Meneer, karena terpengaruh ejaan Belanda. Padahal nama Meneer itu sebenarnya ”Menir” beras mungil di Jawa. Sebab sang nyonya ini pada waktu kecilnya hanya mau makan beras menir.

Namun ketika menjalani kehidupan rumah tangga beliau kemudian sakit. Di obati ke mana-mana tidak sembuh-sembuh juga. Dia mencoba mengingat-ingat cara membuat jamu yang pernah di ajar orangtuanya. Dan ternyata manjur.


Kabar kesembuhannya menyebar dari mulut ke mulut. Dari rumah ke rumah, banyak orang mulai berdatangan. Akhirnya jamu buatan nyonya Meneer ini terkenal. Mereka mulai mengkomersilkannya dengan membuat dalam kemasan. Agar tidak mudah dipalsukan, dipasang potret Sang Nyonya sedang tersenyum persis seperti yang tergantung di museum.

Selain foto bersejarah itu ada berbagai bungkusan jamu dari masa ke masa. Patung-patung dengan ukuran manusia sebenarnya membuat jamu tradisional. Sajian rempah-rempah yang dilengkapi nama latin sebagai bahan dasar pembuatan jamu.

Sesi selanjutnya kami diajak melihat pembuatan jamu dengan mata kepala sendiri. Kalau beruntung terkadang ada atraksi orang kerdil namun hari itu saya tidak sempat mengabadikannya. Untuk suguhannya tidak usah heran, tentu saja jamu kunyit asam yang segar.

Beberapa dari pengunjung termasuk saya membawa buah tangan dari museum yang dibangun 18 Januari 1984. Diantaranya adalah bedak dingin, lulur mangir, obat jerawat. Tenang-tenang, karena sekarang sudah modern, jamu-jamu ini ada yang di kemas memakai pil dan kapsul. Tidak perlu lagi ingin muntah dengan seduhannya.

Percaya atau tidak setelah saya mencoba produk-produk tradisional itu, malas rasanya melirik produk kecantikan modern. Dari sisi harga tentu saja lebih murah, dan khasiatnya juga mantap. Namun jika membeli barang-barang ini, kudu pergi ke tempat yang benar, karena rawan pemalsuan.

Bagi yang mau mencoba tidak ada salahnya, saya sarankan lulur mangirnya. Yang ketika digosokan ke badan lebih mantap daripada bodyscrub di pasaran. Oh ya ada satu rahasia yang bisa diterapkan buat anda dan pasangan. Coba cari jamu sari rapet, kali ajah bisa membuat benar-benar ”rapat”. Dan hasilnya mmmm bisa share di sini.

Bagaimana, sudah siap untuk ”Njamu”?

@Rosallyn T., SepociKopi, 2010

Jalan-jalan di Bandung


Oleh: Dragon Fury

Bicara masalah traveling, mungkin aku sudah sering mengunjungi kota-kota di Indonesia namun akan beda rasanya kalau kita berjalan-jalan bersama partner. Inilah kunjunganku pertama kali bersama partner ke Bandung, walaupun sebenarnya kami hampir setiap bulan ke Bandung tapi belum pernah bersama-sama.

Liburan ke Bandung merupakan liburan penyegar bagi hubungan kami karena bulan kemarin aku keluar kota selama sebulan lebih untuk menyelesaikan bisnis keluarga. Akhirnya kami memulai perjalanan selama tiga hari di sana. Hari pertama sampai di Bandung, aku langsung mengajaknya ke Ciwalk. Di situ sebenarnya banyak kenangan dengan mantanku tapi itu masa lalu. Sekarang di pelukanku ada seseorang yang sayang padaku dan aku juga sedang belajar menyayanginya.

Balik lagi ke Bandung. Bicara tentang Bandung takkan lepas dari bicara soal kuliner. Kami yang sudah menjelajah hampir setiap pelosok jakarta dan beberapa kali mampir ke Bogor untuk memcicipi kuliner sudah mulai bosan. Harga makanan di Bandung jauh lebih murah dan tentu saja lebih enak dengan proporsi yang lebih banyak.

Tempat-tempat yang kami kunjungi dalam liburan singkat itu adalah:

Kantin NHI: berlokasi di daerah Setia Budi. Menawarkan berbagai menu surabi, colenak (tape dibakar), makanan Timur Tengah, nasi goreng, dan banyak makanan lainnya. Harga sangat terjangkau untuk mahasiswa dan porsi tentu saja cukup untuk perut yang keroncongan. Ini salah satu kantin yang wajib kukunjungi. Di kantin inilah aku biasa ngumpul bareng teman sekolahku dulu.

Warung Pasta: berlokasi di Dago (deket Kartika Sari Dago). Menu berbagai jenis pasta dan pizza. Kenapa akhirnya ke sini karena partner pecinta fettucini sejati. Harga jelas murah dan sebanding dengan kualitas masakan. Harus nyoba: pizza coklat keju (harga 9rb) tapi dapat dibagi bersama lima orang, dijamin kenyang semua.

Braga: di jalan Braga, aku menganjurkan untuk sarapan pagi. Di sana banyak menu yang menyediakan roti-roti khas Eropa. Nikmat ditemani segelas kopi, jadilah kita merasa seperti noni-noni Belanda. Ke sana belum mandi dan masih bau bantal karena aku dan partner terbiasa bangun siang, tapi demi menyicipi roti dan sarapan pagi di Braga, aku rela bangun dan keluar tanpa persiapan apa pun kecuali perut kosong.

Dago Pakar: banyak restoran dan cafe-cafe yang lezat dan menarik. Aku mengunjungi Lesung. Mungkin pas sehabis hujan, pemandangannya tertutup oleh kabut. Tidak bisa melihat apa-apa selain yang di dalam cafe. Tersedia berbagai makanan mulai dari masakan Eropa, Cina, Jepang, dan masakan khas Bandung. Harga di atas rata-rata mahasiswa tapi terbayar dengan tempat dan suasananya. Di Dago Pakar juga ada the View, Jack House, Bukit Bintang, dan lain-lain.

Yang tidak kesampaian adalah masuk k klub-klub lainnya dan ke Jack House hanya sekadar sekedar menyicipi wine . Tapi partner melarang keras karena dia tidak suka melihat aku minum di depan matanya. Nah, masih banyak kok tempat-tempat romantis yang bisa dikunjungi selama liburan ke Bandung dan untuk bermesra-mesraan tanpa perlu takut. Ada Kawah Putih, Paris van Java, atau hanya berjalan kaki sekitas Ciampelas.

Selamat berlibur kawan.

Tentang Dragon Fury:
Tinggal di Jakarta, bekerja sebagai seorang photografer freelance di beberapa surat kabar, pecinta traveling.

Taman Bunga Nusantara

Oleh: LigX

Pengunjung disambut dengan angsa hitam saat berada di gerbang Taman Bunga Nusantara. Angsa hitam tersebut merupakan maskot taman yang diresmikan oleh Alm. Soeharto, dan menjadi taman yang begitu unik. Tiga tahun yang lalu aku mengunjungi taman ini, bagiku ini adalah taman terindah yang pernah aku kunjungi dari berbagai taman-taman yang lain. Taman yang berlokasi Jl. Mariwati KM 7, Desa Kawungluwuk, Cianjur Jawa Barat ini merupakan taman yang berbeda dengan tama-taman yang ada yang ada di Indonesia. Dengan konsep taman display bunga pertama di Indonesia ini merupakan taman yang menyajikan berbagai koleksi tanaman bunga yang terkenal dan unik dari berbagai belahan dunia. Bukan hanya tanaman bunga yang menyuguhkan keelokan dan meyegarkan pandangan tapi di sini juga dilengkapi fasilitas-fasilitas yang dapat membuat pengunjung betah untuk berlama-lama di taman ini.

Labirin dan menara pandang adalah salah satu fasilitas yang takkan pernah aku lupakan ketika aku berada di dalamnya. Aku tersesat di tengah-tengah labirin dengan beberapa teman, mencoba berbagai jalur untuk menemukan jalan keluarnya tetap saja tidak aku temukan, butuh waktu beberapa lama untuk segera keluar dari lorong-lorong tumbuhan yang tingginya kira-kira dua meter.

Setelah berhasil keluar dari labirin, aku menaiki menara pandang yang menurutku bentuknya hampir menyerupai pagoda. Di atas ketinggian 28 meter aku dapat melihat pemandangan yang luar biasa menakjubkan, aku dapat melihat jelas alur jalan labirin yang sebelumnya aku kelilingi hingga bercucuran keringat, ah ternyata alur labirin itu mudah meskipun aku sempat merasa kesulitan ketika di dalamnya. Aku dapat melihat karpet bunga yang sungguh benar-benar seperti karpet yang entah bagaimana pambuatannya hingga dapat benar-benar menyerupai karpet. Beberapa taman kota yang ada di luar negeri pun terpampang jelas ketika aku berada di atas menara pandang ini. Taman Prancis, Taman Amerika, Taman Bali, Taman Mediterania, Taman Jepang dan Danau Angsa. Meskipun tidak semua dapat terlihat dengan jelas tapi taman ini wajib dikunjungi jika sedang berwisata dan melewati jalur ini. Dengan cuaca yang mendukung sungguh melengkapi suasana saat berada di taman bunga, apalagi berkunjung dengan partner tercinta, it's so romantic.

Taman bunga ini buka pada hari Ssenin-Jumat 08.00 s/d 17.00 WIB dan Sabtu, Minggu dan Hari Libur: 08.00 s/d 17.30 WIB dapat menjadi satu referensi saat bosan mengajak jalan partner ke tempat-tempat keramaian seperti mal yang hanya untuk menonton, makan dan nongkrong. Sesekali melakukan perjalan yang berbeda yang dapat mempererat jalinan hubungan dengan pasangan.

Taman ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti penginapan, cafe, resto, toko suvenir, poliknik, dan wira-wiri agar pengunjung tidak perlu berjalan kaki untuk mengelilingi taman menjadi point plus dari taman ini. Tiket masuk yang terjangkau dapat membuat pengunjung tidak usah berpikir dua kali untuk datang ke tempat ini. Ada waktu luang dan ingin melepas penat dapat mengujungi taman ini kapanpun diinginkan. Jika anda kebetulan sedang berselancar di dunia maya dapat juga mampir ke www..tamanbunganusantara.com dan dapatkan berbagai informasi wisata yang lebih lengkap di sini.

Have a nice trip

@LigX, SepociKopi, 2009

Palembang: Kota Tua yang Istimewa

Oleh: Janit Wk.

Palembang sebagai ibukota dari provinsi Sumatera Selatan ini lahir pada tanggal 17 Juni 683 M, maka tak heran Palembang dikenal sebagai kota tua. Luas wilayah kota Palembang adalah 102,47 km2, walau letaknya cukup strategis karena dilalui jalur lalu lintas pulau Sumatera, namun tak bisa dipungkiri, kota Palembang sendiri minim panorama wisata. Di Palembang tak ada pantai-pantai indah karena letak Sumatra Selatan sendiri di tengah-tengah diapit Provinsi Sumatera Barat, Bengkulu, dan Jambi. Tak ada lembah dan gunung yang indah, jika ingin suasana seperti perkebunan teh di daerah puncak Bandung. Kita harus menempuh jarak 7 jam perjalanan menuju daerah kabupaten lain yaitu Pagaralam, di luar wilayah Palembang,walaupun Pagaralam sendiri salah satu kabupaten di wilayah Provinsi Sumatera Selatan juga.

Perubahan signifikan tampak saat Palembang berbenah diri menjadi tuan rumah PON XVI Tahun 2004. Aku yang saat itu masih giat-giatnya menempuh pendidikan di bangku kuliah melihat dengan jelas upaya yang dilakukan oleh Pemda setempat, mulai dari meningkatnya jumlah hotel bintang lima yang dulu hanya tak lebih dari hitungan sebelah tangan saja, renovasi bandara, pembangunan stadion sepak bola yang sampai sekarang menjadi kebanggaan masyarakat palembang dan menjadi markas besar Sriwijaya FC “Laskar Wong Kito“, hingga pembangunan mal-mal yang cukup menghibur masyarakat kota Palembang yang masih minim akan hiburan

Jembatan Ampera sebagai maskot kota Palembang saat ini merupakan jembatan penghubung antara dua daerah di Palembang yang terbelah Sungai Musi, yaitu daerah seberang ulu dan seberang ilir. Sungai Musi yang panjang nya kurang-lebih 750 kilometer ini menjadi sungai yang terpanjang di Pulau Sumatra dan menjadi urat nadi kehidupan masyarakat kota Palembang. Air dari sungai ini menjadi sumber air bagi PDAM yang mengalir ke rumah-rumah penduduk.

Di tengah-tengah Sungai Musi sendiri terdapat pulau kecil yang mesti ditempuh melalui perahu atau tongkang, pulau ini dsebut Pulau Kemaro. Di pulau ini terdapat pagoda yang sering digunakan oleh orang-orang keturunan tionghoa dalam perayaan Tahun Baru China atau perayaan keagamaan yang lain. Aku sendiri sampai saat ini belum pernah mempunyai kesempatan untuk berkunjung ke Pulau Kemaro, suatu saat aku pasti akan ke sana. Secara keseluruhan objek wisata yang menjadi andalan masyarakat kota Palembang saat ini adalah Sungai Musi, Jembatan Ampera, Masjid Agung Sultan Mahmud Badarudin II, Hutan wisata Punti Kayu, Benteng Kuto Besak, Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Taman Purbakala Bukit Siguntang, Monumen perjuangan rakyat, Musium Balaputra dewa, Museum Sultan Mahmud Badarudin II Palembang, Kampung Kapitan, Kampung Arab, Pusat kerajinan songket, Pulau Kemaro, dan Fantasy Island.


foto oleh: Janit Wk.


Di kota Palembang ada wilayah yang menjadi ciri khas dari suatu komunitas seperti kampung kapitan yang terletak di daerah 7 ulu yang merupakan wilayah komunitas Tionghoa dan kampung Al-Munawar yang tersebar di pinggiran Sungai Musi daerah Palembang ulu dan Palembang ilir yang merupakan wilayah komunitas Arab. Bahasa dan budaya Palembang sendiri kental akan nuansa Jawa. Gelar kebangsawanan seperti Raden Mas/ Ayu, Kemas atau Nyimas yang mengisyaratkan kalau gelar ini adalah keturunan dari kesultanan atau raja-raja Palembang, masih dipakai oleh orang-orang yang berhak memakainya karena garis keturunan mereka, jadi aku bisa tahu temanku orang Palembang ‘asli’ atau bukan jika mereka memakai gelarnya. Palembang sendiri merupakan perpaduan dari berbagai macam suku dan budaya, Melayu, Tionghoa, Jawa, Arab, bercampur menjadi satu dalam suatu keselarasan.

Semua orang tahu yang sangat terkenal dari kota Palembang adalah makanan khasnya, Pempek atau suka di sebut Empek-Empek, makanan yang diolah dari tepung terigu/sagu, dicampur dengan daging ikan yang sudah dihaluskan, dapat dibentuk sesuai selera, bisa disantap dengan proses rebus atau goreng, yang membuat pempek lebih enak adalah dari kuahnya, disebut cuko, yang terbuat dari rebusan air gula merah/aren. Air gula itu dicampur dengan bumbu cabe rawit, bawang putih, dan sedikit garam yang sudah dihaluskan. Aku kasih tau ya rahasia kenapa Pempek Palembang lebih enak rasanya dibandingkan jika teman-teman mencicipi pempek di daerah lain, menurut mamaku yang aku nilai jago juga membuat pempek beserta cukonya ini,rahasianya adalah terletak di ikan sungai yang harus benar-benar segar (biasanya ikan gabus atau ikan belida) selain itu yang penting juga adalah cukonya harus berasal dari gula merah pilihan. Di Palembang menggunakan gula merah batok yang berasal dari Lubuk Linggau.

Aku lebih suka menyebut Palembang sebagai surga wisata kuliner, karena bagiku makanan khas yang ada di kotaku ini sangat beraneka ragam, orang dari luar kota hanya mengenal Pempek, padahal masih bnyak yang lain seperti Model; adonan sama seperti pempek kapal selam tapi diisi tahu, yang disantap bersama kuah seperti kuah sup, tapi mempunyai bumbu yang lebih khas. Tekwan; hampir mirip dengan model tapi tidak ada tahunya. Laksan ; bahan dan bentuknya sama seperti pempek lenjer, hanya kuahnya sedikit beda diberi santan dan cabe merah,sehingga warna kuahnya sedikit merah. Celimpungan; rasanya sama seperti laksan, berbeda di bentuk. Celimpungan berbentuk bulat bergerigi seperti bakso kecil, lagi-lagi perbedaan ada di kuah, kuah celimpungan berwarna sedikit kuning karena diberi bumbu kunyit. Makanan khas Palembang lainnya ialah Burgo, pindang patin, pindang tulang, malbi, otak-otak, mie celor, tempoyak, kemplang, kerupuk, kue maksubah, kue delapan jam, kue sri kayo. Semua makanan khas ini mempunyai cita rasa yang tinggi, lebih enak menjelaskan seluk beluk makanan-makanan ini sambil kita mencicipinya.

Oya, ada satu lagi ciri khas dari kota ini, yaitu mainan anal-anak yang berbentuk miniatur pesawat terbang dan kapal laut yang terbuat dari kayu gabus, yang biasanya dilengkapi dengan telur ayam rebus yang diberi pewarna merah,telur ayam berwarna merah inilah yang di sebut dengan “telok abang“. Di usiaku yang telah melebihi seperempat abad aku ternyata baru tahu kalau mainan anak-anak ini hanya ada di kota ku. Uniknya mainan ini hanya akan muncul bersamaan dengan datangnya bulan Agustus, menambah semaraknya perayaan kemerdekaan 17 Agustus.

Palembang di malam hari akan lebih gemerlap dengan cahaya warna-warni, menambah semarak kota, mulai dari Jembatan Ampera sampai gedung wali kota yang lebih indah saja malam hari. Aku sendiri lebih suka hang out di tempat yang disebut Kambang Iwak Family Park. Tempat ini mulai ramai beroperasi setiap harinya kurang-lebih pada pukul dua siang, memang tempat yang dikhususkan untuk tempat rekreasi di tengah-tengah kota ini lebih ‘hidup’ pada saat malam menjelang.

Pada sore hari banyak orang yang jogging mengelilingi areal Kambang Iwak ini. ‘kambang‘ sendiri artinya kolam dan ‘iwak’ artinya ikan. Jadi tempat ini adalah kolam ikan yang luas yang disekelilingnya ditumbuhi pepohonan rimbun, dengan air mancur di tengah kolam. Tempat ini dibangun sebagai tempat penampungan air hujan dan tempat muara mengalirnya air menuju Sungai Musi. Baru awal tahun 2009 telah resmi dibuka Kambang Iwak Family Park, sehingga semakin banyak toko yang buka di areal kambang iwak ini, mulai dari toko makanan beraneka macam, memakai konsep café atau resto terbuka, ada juga distro yang menjual aksesori ataupun baju-baju,

Walau gaydar-ku belum terlalu tajam, pada saat aku berada di kawasan KIF ini aku dapat menangkap dengan jelas jika ada lesbian yang juga sedang hang out di tempat ini, walaupun tempat ini bukan khusus tempat hang out lesbian. Ada yang bergerombol dan ada pula yang berpasangan. Jadi, mungkinkah ada pembaca SepociKopi ini yang pernah kulihat di sana?

@Janit Wk., SepociKopi, 2009

Tentang Janir Wk:

Lahir di Palembang 27 tahun silam. Lulusan teknik elektro yang kini bekerja di bidang marketing farmasi.

Perjalanan Sejarah dari Xian


Oleh: Grey Sebastian

Setiap tanggal 1 Mei di China merupakan hari libur untuk merayakan Labor Day atau kadang disebut May Day. Karena kebetulan 1 Mei kali ini jatuh di hari Jumat makanya aku memiliki waktu santai untuk berlibur ke luar kota. Aku memilih Xian untuk liburan kali ini.

Sebenarnya aku penasaran sekali ke Xian. Di sana ada Terracotta; patung-patung prajurit yang terbuat dari tanah liat. Konon patung-patung tersebut di buat atas keinginan Kaisar pertama China Qin Shi Huang yang tidak mau sendirian saat ia meninggal.

Qin Shi Huang naik tahta di usia 13 tahun. Di usia 22 tahun ia memegang kendali kerajaan sepenuhnya. Tidak lama setelah naik tahta, ia memerintahkan sekitar 700,000 pekerja untuk membangun Musoleum tentang dirinya beserta patung-patung prajurit Terracotta tersebut. Dan ketika Qin Shi Huang meninggal, putranya Qin Er Shi memerintahkan para pekerja yang tidak memiliki keluarga dan tidak dapat bekerja lagi agar dikubur hidup-hidup bersama jenasah sang Kaisar pertama.

Terracotta ditemukan secara tidak sengaja oleh empat orang petani yang saat itu sedang menggali sumur untuk mengairi tanah mereka. Saat ini Terracotta sering disebut sebagai keajaiban dunia kedelapan. Sehingga ada pepatah yang mengatakan kalau belum melihat Terracotta, artinya belum pergi ke China.

Namun selain Terracotta, Xian memiliki banyak sekali tempat-tempat bersejarah menarik lainnya seperti tembok kota Xian, Hua Qing Pool, Menara Drum dan Bell, Gunung Hua, Masjid Agung Xian dan lainnya yang tidak sempat aku kunjungi saking banyaknya.

Sedikit informasi, lama perjalanan dari Beijing ke Xian adalah tiga belas jam menggunakan kereta. Otomatis meski dibilang empat hari tur, tapi kenyataannya dua hari di kereta dan hanya dua hari di Xian. Maka itu tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi dalam waktu sesingkat itu.


Pada hari pertama, setibanya di Xian, sebelum ke Terracotta, aku mengunjungi Hua Qing Pool terlebih dahulu. Hua Qing Pool adalah tempat pemandian Kaisar beserta permaisurinya dan anggota keluarga kerajaan lainnya. Di bangun pada jaman Dinasti Zhou (1100–771 SM). Hua Qing Pool ini juga merupakan tempat sauna pertama di dunia karena air pemandian di sini berasal dari sumber mata air panas alami.

Konon salah seorang dari empat wanita tercantik sepanjang sejarah China, yang juga merupakan selir kesayangan Kaisar Li Long Ji, yaitu Selir Yang, suka sekali mandi di pemandian ini. Inilah yang mengangkat reputasi Hua Qing Pool. Pada tanggal 12 Desember 1936, di Hua Qing Pool terjadi insiden Xian yang mengejutkan dunia.

Di hari kedua, aku mengunjungi Tembok kota Xian. Tidak jelas kapan Tembok kota Xi’an di bangun, tapi sejarah mencatat bahwa tembok itu diperbesar pada tahun 1374-1378 oleh Dinasti Tang. Tembok ini memiliki panjang 11,9 Km, tinggi sekitar 30 meter, lebar 15 meter, dan empat menara penjagaan. Untuk mengitari tembok ini bisa menggunakan sepeda. Karena itu di setiap menara penjagaan ada tempat penyewaan sepeda. Satu sepeda disewakan dengan harga 40RMB per jam.

Setelah Tembok kota Xian, aku pergi ke Wild Goose Pagoda, tapi tidak sempat masuk karena waktu yang sangat terbatas. Dari situ aku ke Menara Drum dan Bell. Di menara ini aku juga tidak naik ke atasnya karena harus membayar cukup mahal. Menara seperti ini ada di setiap kota di China, termasuk Beijing. Jadi menurutku kurang unik. Akhirnya aku memilih mengunjungi Masjid Agung Xian.


Dari arah utara barat Menara Drum and Bell Xian, dibangun sebuah Mesjid Agung. Masjid Agung seluas 12,000 m2 ini dibangun pada jaman Dinasti Tang (618-907), dan diperbaiki pada jaman Dinasti Ming (1368-1644). Mesjid ini dibagun untuk menghormati sebagian penduduk Xian yang menganut agama Islam.

Dokumen-dokumen bersejarah mencatatkan masuknya Islam ke China melalui 2 jalan. Jalan pertama melalui perdagangan sutra dari Asia barat ke Xian yang saat itu disebut sebagai Changan lalu ke Xinjiang Uygur, sebuah daerah otonomi. Jalan lainnya yaitu melalui Dinasti Sing (960-1279) melalui Samudera Hindia ke daerah tenggara China.

Karena saat ini Masjid Agung tersebut sudah dibuka untuk umum, maka sepanjang jalan menuju masjid ini dipenuhi toko-toko yang menjual souvenir dan restorant-restorant muslim yang dijamin halal. Saat hari libur seperti May Day kemarin, jalan ini benar-benar dipadati turis lokal maupun turis asing.

Masjid Agung Xian adalah tempat terakhir yang sempat aku kunjungi, karena tidak terasa aku sudah harus pergi ke stasiun kereta untuk segera kembali ke Beijing. Mungkin lain kali aku harus menyediakan waktu yang lebih panjang untuk mempelajari sejarah-sejarah Cina yang sangat mengagumkan.

@Grey Sebastian, SepociKopi, 2009
Photos by Grey Sebastian

Penang: Kota Kenangan



Oleh: d'

Hari masih pagi, cuacanya juga cerah ketika aku kembali menginjakkan kakiku di Pulau Penang, Malaysia. Kalau dulu, alasanku berkunjung ke Penang hanya karena ingin refreshing atau lagi ngidam Hainan Chicken Rice kayak orang hamil. Yah, entah kenapa, aku pribadi merasa Hainan Chicken Rice di sini nikmat untuk kulahap. Dan entah kenapa aku cenderung menyukai aroma kehidupan yang santai di kota ini dibandingkan Kuala Lumpur yang megah gemerlap.

Kedatanganku ke Penang kali ini selain untuk refreshing, adalah menemui seorang perempuan. Tapi bukan itu yang ingin kubahas, melainkan beberapa tempat wisata di kota ini.

Nah dulu itu, aku mengambil paket City Tour. Jadi begitu tiba di airport, aku sudah dijemput oleh guide-nya. Dari bandara, kami menuju ke Snake Temple, sebuah kuil yang letaknya tak berapa jauh dari bandara. Kuilnya tidak terlalu besar ataupun megah, tapi di sini bisa dijumpai beranekaragam jenis ular.

Lalu kita pun menuju Fort Cornwallis. Tempat ini menjadi saksi bisu bagi sejarah Pulau Penang. Kononnya di tempat ini Kapten Francis Light pertama kali menginjakkan kaki dan kemudian dia membangun sebuah benteng, yang olehnya benteng ini diberi nama Fort Cornwallis.

Dulunya, Fort Cornwallis ini berfungsi sebagai benteng pertahanan di Pulau Penang. Sejumlah meriam terpasang di sekeliling benteng yang hingga kini masih bisa dijumpai di sana, utuh, dan kini dengan fungsi yang sudah berbeda tentunya. Fort Cornwallis sudah bukan lagi benteng pertahanan tapi sudah dijadikan sebagai salah satu tempat wisata yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Dan ketika kuhirup udaranya, tempatnya terkesan so historical.

Dari sana, kemudian kami menuju Wat Chayamankalarm. Wat Chayamankalarm adalah kuil umat Buddha merayakan festival Songkran dan Loy Krathong. Di kuil ini dapat kita temukan sebuah patung Buddha tidur, yang mana patung Buddha tersebut berpose dalam keadaan berbaring miring, sepanjang 33 meter dan berlapiskan emas.

Di Penang kononnya memang terdapat banyak sekali kuil dan pagoda. Tetapi aku cuma berkesempatan mengunjungi beberapa di antaranya saja. Secara kata Pak Guide, yang lain tidaklah begitu menarik. Jadi dia membawaku ke tempat yang memang ramai diminati/dikunjungi oleh wisatawan.

Selanjutnya aku menuju kuil lain lagi. Kata Pak Guide, kuil yang akan kami kunjungi ini adalah salah satu kuil/pagoda yang terbesar di kawasan Penang. Dan... benar saja. Ketika tiba di sana, aku seketika berdecak kagum menyaksikan kemegahan kuil ini. Untuk masuk ke kuilnya, kita akan melintasi jembatan di mana di bawah jembatan ini terdapat Sungai Air Itam. Di sini bisa kita jumpai ratusan kura-kura yang kononnya sudah berusia kurang-lebih lima puluh tahunan. Di sepanjang jalan, dipenuhi dengan penjual pernak-pernik suvernir khas Penang.

Di sini terdapat banyak ukiran dan patung Buddha. Dan untuk mengagumi sebuah karya tangan manusia, aku suka menyentuhnya. Ketika aku menyentuh ukiran-ukiran batu tersebut, ukiran-ukiran itu sangatlah halus. Benar-benar karya manusia yang luar biasa.

Kuil ini letaknya di atas bukit, tapi untuk menuju ke pagoda utamanya harus dijangkau lagi dengan menggunakan mini train (kunamai saja seperti ini, secara aku lupa namanya).

Nah, di sana ada patung raksasa Dewi Kwan Im (Avalokitesvara) yang bisa kita temukan di pagoda Kee Lok Si, Penang. Patung ini terbuat dari perunggu dengan ukuran 30,2 meter dan terletak di bagian paling atas kuil.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Penang Hill atau dikenal dengan sebutan Bukit Bendera. Untuk bisa mencapai puncak dari tempat ini kita harus menggunakan Train listrik.

Penang Hill ini berada di ketinggian 830 meter di atas permukaan laut. Itulah alasannya kenapa dari puncak ini kita bisa melihat secara keseluruhan dari Kota Penang. Penang Hill merupakan tempat tertinggi dan tersejuk di Penang.

Sebenarnya masih ada beberapa tempat wisata lain di Penang. Seperti Batu Ferringhi yang merupakan kawasan pantai, katanya memiliki jajanan malam tradisional dan beraneka ragam makanan Eropa serta berbagai macam barang dagangan. Tapi sayangnya, aku pribadi belum pernah ke sana pada malam hari. Jadi, seperti ini suasana pantai yang aku temui di sana, di siang hari nan terik. Panassssss....

Jika tidak menyukai wisata alam, di Penang juga terdapat banyak kok pusat-pusat perbelanjaan, seperti Gurney Plaza, Prangin Mall atau yang terbaru ada Queensbay.

Jangan takut tersesat karena penduduknya ramah. Apalagi kalau kamu berduit, pasti dilayani dengan baik (hehehe, kidding). Penduduk setempat baik kok. Pada umunya bisa berbahasa Melayu, ada yang pintar Hokkian dan beberapa fasih Mandarin. Bahkan juga berbahasa Tamil atau Hindi. Jadi, yah santai saja. Tidak perlu takut untuk miscommunication.

Akhir kata, Penang adalah kota yang asyik buat dikunjungi atau dijadikan sebagai tempat liburan. So, I will go back there again huh, next time, next trip. Let’s go Penang.

@d', SepociKopi, 2009

Tentang d':
Tinggal di Medan, usia 29 tahun, bekerja sebagai pegawai swasta, berusaha keras (walaupun sulit) agar tidak tenggelam dalam krisis kepercayaan penemuan cinta sejati (versi dongeng) yang sejak kecil sangat diyakininya.

Nanning: Indonesian Town in China

Oleh: Grey Sebastian

Sebelum aku balik ke Jakarta, selama dua minggu aku menghabiskan liburanku di kota Nanning, ibukota provinsi Guangxi, China. Di salah satu pinggiran kota Nanning inilah sebagian keluargaku tinggal, setelah pembuangan orang Indonesia “keturunan” China yang terjadi sekitar tahun 1965.

Sebenarnya kalau bukan karena janji yang sudah diucapkan keluargaku sejak beberapa tahun yang lalu untuk datang mengunjungi keluarga yang di China, aku sama sekali tidak akan terpikir untuk datang ke kota ini. Karena meskipun Nanning adalah ibukota provinsi Guangxi, tapi Nanning tetaplah sebuah kota kecil yang jarang diketahui orang. Bahkan orang-orang China yang bukan berasal dari daerah Guangxi, juga jarang mendengar nama kota ini. Selain itu, di kota ini tidak ada tempat wisata yang populer.

Seminggu setelah Imlek, tepatnya tanggal 1 Februari 2009 kemarin adalah hari bersejarah untuk pamanku di Nanning. Hari itu pamanku resmi menikahi gadis yang sudah dipacarinya selama beberapa tahun. Karena kebetulan aku sedang bersekolah di China, sejak jauh-jauh hari aku sudah diingatkan untuk wajib hadir di acara pernikahan mereka. Aku mewakili keluarga besarku di Indonesia yang sudah pasti tidak mungkin hadir karena ongkosnya mahal.

Oh ya, berhubung Beijing bagaikan kota tanpa penduduk menjelang perayaan Imlek, sejak tanggal 21 Januari aku sudah tiba di Nanning. Jadi sekalian merayakan Imlek di sana. Mulanya, sehari setelah Imlek sampai dengan hari pernikahan pamanku, aku ingin berangkat ke Hong Kong selama lima hari. Sungguh malas menginap di rumah orang lama-lama. Tapi Tuhan berkehendak lain! Aku kehabisan tiket ke Hong Kong sehingga otomatis selama dua minggu aku menjadi penduduk sementara kota Nanning.

Selama dua minggu, hampir setiap hari aku diajak berliling kota, berwisata kuliner, dan diperkenalkan kepada warga sekitar. Aku baru menyadari kalau Nanning adalah Indonesian Town di China. Konon, kota ini adalah kota penampungan bagi para Hua Qiao (sebutan untuk orang keturunan China) yang mengalami pembuangan dari Indonesia sekitar tahun 1965.

Hampir semua para tetua di kota ini bisa berbahasa Indonesia, meskipun bukan bahasa Indonesia yang baku. Tapi logat Jawa, Cirebon, Cilamaya, Sunda masih sangat kental. Angkatan para pemuda mengerti bahasa Indonesia secara pasif. Hampir di setiap sudut kota banyak toko kue yang menjual Yin ni Dan gao (kue-kue Indonesia).

Selera masakan juga ternyata mirip dengan rasa Indonesia. Ada bakso yang nikmatnya mirip Bakso Afung di Jakarta, hanya kuahnya lebih kental. Ada Chao Fen yang 100% sama dengan Cong Fan, makanan khas daerah Medan. La jiang (saus pedas) rasanya mirip sambal bawang putih Lampung. Duh enaknya, sebab aku selalu bawa sambal sendiri setiap kali makan di mana-mana. Tidak pernah ada sambal di kota-kota lain di China seperti sambal di Nanning.

Saat malam imlek, pada sebuah acara TV aku menonton lagu-lagu Bengawan Solo dan Nona Manis. Mereka mengenakan kebaya. Kata pamanku, acara seperti itu diadakan setiap tahun, termasuk perlombaan tari-tarian khas Indonesia yang diselenggarakan tiap minggu. Ratusan orang mengikuti kelompok menari di balai desa. Tentu saja lagu yang mengiringi tarian mereka adalah lagu-lagu Indonesia jadul. Tarian mereka mirip tarian Jaipong. Sementara itu, sastra Indonesia termasuk pelajaran yang banyak peminatnya di kampus-kampus di kota Nanning.

Di akhir pesta pernikahan pamanku, aku juga baru tahu kalau setiap akhir pesta harus ada acara joget bersama. Itu tradisi! Jogetnya tentu saja menggunakan lagu-lagu Indonesia, khususnya lagu dangdut.

Pokoknya aku salut banget deh! Segala sesuatu yang berbau Indonesia sangat dihargai di Nanning. Karena di Jakarta, orang-orangnya sendiri tidak menghargai kebudayaan khas Indonesia. Dan karena aku datang dari Indonesia, mereka memperlakukanku bagai tamu agung lho :P

Salam dari Nanning buat Indonesia!

@Grey Sebastian, SepociKopi, 2009

Batam Kota Kehidupan

Oleh: Anggra

Sejak pertama kali memutuskan untuk bekerja di Pulau Batam yang ada di benakku hanyalah pikiran untuk mencoba belajar hidup mandiri dan melepaskan ketergantungan keuangan pada orangtua. Selain itu, aku yang sudah menyadari orientasi seksualku tentu saja selain ingin bekerja juga ingin mencari perempuan yang kuidamkan sebagai teman hidupku.


Photo: Kawasan Industri Batamindo


Batam terkenal sebagai kota industri, sekitar dua puluh enam kawasan industri tersebar di setiap sudut kota dan lebih dari lima ratus perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur dan galangan kapal beroperasi di sini. Di antara perusahaan tersebut terdapat beberapa perusahaan raksasa seperti Ciba Vision, Panasonic, dan McDermott.

Dulu saat jumlah penduduk kota Batam masih sedikit, lapangan pekerjaan masih terbuka lebar dan perjudian masih belum dilarang oleh pemerintah, maka kota Batam benar-benar menjadi magnet bagi para pencari kerja. Tapi seiring bertambahnya jumlah penduduk kota Batam yang mengakibatkan lapangan pekerjaan semakin sempit dan perjudian sudah dilarang oleh pemerintah, Batam tidak lagi menjadi kota primadona bagi para pencari kerja. Tapi walaupun demikian pemerintah kota Batam tetap membatasi laju pertambahan penduduk yang berasal dari daerah lain dengan memberlakukan peraturan masuk bagi para pendatang baru pada pintu masuk pelabuhan ferry domestik.

Hidup di tengah kota yang heterogen sangat menyenangkan karena bisa menambah wawasan tentang bahasa dan budaya daerah lain seperti budaya Batak, Jawa, dan Minang. Walaupun demikian, keanekaragaman budaya di kota Batam tetap dipayungi oleh satu budaya yaitu budaya Melayu.

Photo: Ferry Terminal Batam Center


Akses menuju Batam dapat ditempuh melalui jalur udara dan laut. Melalui jalur udara, Bandara Internasional Hang Nadim siap melayani rute penerbangan dari berbagai kota di Indonesia. Melalui jalur laut, pelabuhan domestik Sekupang siap menerima kedatangan para pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia. Sedangkan pelabuhan ferry internasional yang terletak di lokasi Batam Center, Batu Ampar (Harbour Bay), Nongsa, Waterfront City, dan Sekupang siap menghubungkan Anda dengan Singapura dan Malaysia. Dengan menggunakan kapal ferry jarak tempuh antara Pulau Batam dan Singapura hanya 45 menit sama seperti dengan jarak tempuh antara pulau Batam dan Malaysia.


Photo: Batam City Square Mall


Bila sudah sampai di Batam, silakan memuaskan hasrat untuk berbelanja barang elektronik, aneka merek parfum berkualitas dengan harga yang lebih murah dan berbagai jenis batu akik berkualitas yang rata-rata berasal dari Thailand. Lokasi penjualan batu akik adalah di mal Nagoya Hill, tepatnya di depan Hypermart. Dengan keberadaan pelabuhan ferry internasional maka pada setiap akhir pekan mal-mal besar yang ada di kota Batam seperti Mega Mall, Nagoya Hill Mall, Batam City Square (BCS) selalu dipenuhi oleh para pengunjung yang berasal dari Singapura dan Malaysia. Hal ini sangat kontras dengan kebiasaan warga negara Indonesia yang lebih suka berbelanja di Singapura demi gengsi.

Bagi Anda yang menyukai wisata kuliner terutama makanan laut, Batam adalah tempatnya. Di sini terdapat banyak restoran yang menyediakan makanan laut. Yang menunya paling lengkap dan terkenal adalah restoran tepi Laut Golden Prawn yang terletak di daerah Bengkong Laut, di sini Anda bisa memilih sendiri berbagai jenis ikan yang masih dalam keadaan hidup, kepiting dan lobster yang berukuran jumbo. Selain itu restoran Rezeki yang terletak di Batu Besar bisa juga menjadi pilihan selanjutnya. Dan ada juga sop seafood Yongki yang sudah sangat terkena yang berlokasi di kompleks pertokoan Nagoya. Secara aku adalah penikmat makanan seafood, tempat makan yang telah kusebutkan tadi dijamin maknyus.

Photo: Jembatan Barelang


Setelah perut kenyang, tiba saatnya bagi Anda untuk menjelajahi tempat-tempat wisata di kota Batam seperti menikmati pemandangan laut dari atas Jembatan Barelang yang berdiri kokoh sebagai ikon kota Batam, atau menikmati keindahan pantai yang tersebar di sekitar Pulau Batam seperti Pantai Nongsa, Pantai Melur, Pantai Sekilak, Pantai Marina City atau memandang patung raksasa Dewi Kwan-Im yang berada di Pantai Tanjung Pinggir. Selain wisata pantai, Batam juga menyediakan resort yang bertaraf internasional dengan fasilitas hotel yang berkualitas dan lapangan golf yang bagus.

Lelah menikmati keindahan kota Batam maka tiba saatnya bagi Anda untuk membeli oleh-oleh buat orang yang dicintai. Kalau dulu hanya aneka cokelat yang bisa dijadikan oleh-oleh tapi sekarang sudah ada Kek Pisang Villa Khas Batam, kepiting Cili dari Golden Prawn, donat JCo atau Pisang Bolen coklat dari toko roti Van Holland.

Meskipun Batam bukanlah kota kelahiranku, tapi mengingat hampir dari separuh usiaku telah kuhabiskan di kota ini sudah selayaknya Batam kusebut sebagai kota kehidupanku. Bekerja di kota ini dan menjalani kehidupan yang sederhana bersama dengan partner tercinta adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagiku. Hanya doa dan usaha yang terus kulakukan agar cinta dan kehidupan kami bisa terus bersatu sampai sang takdir memisahkannya.

@Anggra, SepociKopi, 2008
@Foto oleh Anggra

Tentang Anggra:
Sosok melankolis koleris, yang sedang berjuang menjaga hubungannya dengan Tuhan dan mempertahankan kesetiaannya pada kekasih. Sarapan tanpa kopi terasa kurang nikmat di lidahnya. Berolahraga adalah hiburan yang menyenangkan baginya, dan kebiasaan merokok sudah dihentikannya sejak hidup bersama kekasih.

China 2008: Budaya 5000 Tahun

Oleh: Grey Sebastian

Saat menulis ini saya sudah resmi menjadi penduduk sementara Beijing selama 1,5 bulan. Meskipun saat saya tiba di Beijing Olimpiade sudah selesai, tapi saya masih sempat merasakan suasana meriah Paralympics Games (Olimpiade untuk penyandang cacat). Kebetulan asrama tempat saya tinggal selama di sini berada tidak jauh dari penginapan para atlet.

Meski di keluarga saya tidak terbiasa menggunakan bahasa mandarin, sejak kecil saya yang memang keturunan Chinese, sangat mencintai kebudayaan dan sejarah negara leluhur saya ini. “Wo yeye de yeye shi Zhongguo ren”*) itu yang selalu saya katakan setiap berkenalan dengan teman Chinese. Itu sebabnya sejak sebelum lulus kuliah saya sudah memutuskan, minimal saya harus bisa mengerti bahasa Mandarin.

Teman saya pernah bertanya mengapa saya memilih pergi ke sini padahal masyarakat China terkenal sangat “kurang” dalam hal sopan santun dan kebersihan. Setelah saya tinggal di sini, saya baru paham maksud teman saya itu. Tapi karena ada pepatah “Belajarlah sampai ke negeri China” saya tidak pernah memadamkan impian saya untuk belajar di sini. Dan rencana saya 3-4 tahun lagi saya pasti akan kembali ke China untuk mengambil gelar MBA.

China sendiri terlalu kaya dengan kebudayaan yang telah hidup selama 5000 tahun. Tidak akan mungkin bisa saya tuliskan hanya dalam satu halaman blog. Yang saya tuliskan saat ini mungkin hanya sedikit gambaran tentang China. Agar bila ada pembaca SepociKopi yang ingin berlibur ke China tidak kaget dan tidak jera.

***



foto oleh Grey Sebastian

Sejak dulu masyarakat China memang terkenal sangat hemat dengan air dan listrik. Saking hematnya mereka lebih memilih mandi 3-4 hari sekali dan tidak menyiram toilet setelah digunakan daripada harus “membuang-buang” air untuk sekadar menjaga kebersihan. Kalau malam tiba, mereka juga memilih jalanan dan rumah-rumah menjadi gelap daripada harus membuang-buang listrik untuk menyalakan lampu.

Dikarenakan sejak jaman dahulu masyarakat China sebenarnya miskin, tanah yang bisa dibilang kurang subur, ditambah jumlah penduduk yang sangat padat menyebabkan masyarakat China tidak mengenal pepatah “Slowly but sure”. Bagi masyarakat China “Siapa cepat, dia dapat. Siapa kuat, dia menang.” Maka itu jangan harap masyarakat sini mau antre saat naik kendaraan umum atau masuk toilet umum.

Selama berada di China, jangan kaget kalau menemukan toilet tanpa pintu, karena di China itu adalah hal yang biasa. Bahkan ketika saya berlibur di Inner Mongolia, di salah satu restoran mewahnya, toilet di situ benar-benar tanpa sekat sedikit pun.

***

“Makanan di sini murah-murah,” kata teman saya saat pertama kali saya tiba. Dan memang betul makanan di sini cukup murah, meski jika di bandingkan dengan warteg, tetap masih lebih murah warteg. Saat pertama kali makan siang di sini, kami ber-24 orang makan di restoran, total hanya menghabiskan 350RMB atau sama dengan Rp. 490,000.-. Tapi jangan pernah tersinggung kalau anda pergi ke restoran, pelayannya mengantarkan makanan pesanan Anda dengan sedikit melempar atau melayani Anda dengan wajah cemberut. Itu semua sudah biasa di sini.

Namun didorong kegiatan persiapan Olimpiade, kehidupan sosial ekonomi Beijing kini berkembang secara konsisten, cepat, harmonis, dan sehat. Taraf kehidupan rakyat yang semakin bertumbuh dan sejumlah besar infrastruktur lalu lintas yang berturut-turut dibangun, sehingga kualitas lingkungan pun membaik secara menonjol.

Minimal masyarakat di kota-kota besar seperti Beijing dan ShangHai sudah sedikit lebih sopan dan mengenal kebersihan. Meskipun masih banyak juga penduduk yang belum bisa mengubah kebiasaan buruk mereka, yang pastinya sudah ditanamkan orangtua sejak dulu.

Selama 1,5 bulan ini cukup banyak hal-hal yang saya pelajari tentang kebiasaan-kebiasaan masyarakat China, yang pada awalnya membuat saya cukup terkejut. Dan menurut teman-teman saya yang pernah tinggal atau lebih dulu tinggal di sini, itu semua masih belum seberapa. Jika bergaul dengan masyarakat setempat pasti saya akan mendapatkan pengalaman-pengalaman lebih banyak lagi, yang mungkin tidak pernah saya dapatkan di Indonesia.

*) Kakek buyut saya adalah orang China.
@Grey Sebastian, SepociKopi, 2008

Tentang Grey Sebastian:
Saat ini sedang menjadi mahasiswa kelas bahasa di salah satu Language and Culture University di Beijing. Meski usia sudah hampir seperempat abad, tapi masih sedang mencari jati diri dan cinta sejati.

Yogya, In Diversity

Oleh: Edith Weddel

Yogyakarta bagiku kota yang unik. Tiga bulan di kota ini benar-benar membuatku kerasan. Sungguh, aku mulai jatuh cinta dan menggilai setiap sudut yang ditawarkannya. Yogyakarta menyiratkan pesannya tersendiri; sebuah wadah keberagaman yang tidak pernah ada habis-habisnya. Semuanya hampir ada. Berbagai macam manusia – dan jika kamu berbicara tentang manusia berarti kamu akan membahas tentang kesukaannya, penampilannya, cara berpikirnya, sikap, profesi, pandangan hidup kepercayaan dan apapun yang bisa kamu temukan mengenai manusia mulai dari ubun-ubunnya hingga ke jempol kakinya – ada disini. Mulai dari para abdi keraton dan masyarakat yang mengagung-agungkan Show allSri Sultan hingga para seniman yang bebas mengekspresikan apa yang ada dalam pikirannya atau mengkritik – bahkan menskeptisi – sebuah jurang antara harapan dan realitas yang terjadi .

Dan aku berjalan di sekeliling mereka. Di antara para pengemis yang tidak pernah absen di jalanan Malioboro mengulurkan tangan keriputnya ataupun topi lusuhnya kepada orang-orang yangs edang berseliweran. Di antara para pengamen yang bernyanyi sekedarnya untuk mendapatkan recehan yang akan segera ditukarkannya ke angkringan terdekat untuk mengisi perut mereka. Dan aku duduk di salahs atu bangku di daerah sekitar Benteng lagi-lagi dengan disesaki oleh berbagai realitas yang membuat isi kepalaku terus menerus bekerja. Setidaknya mengamati dengan cermat. Para pemusik reggae jalanan yang tengah berlatih untuk bersiap konser dari satu lesehan ke lesehan yang lain. Kelompok skater dengan skateboard di lengan mereka plus kaos yang seragam seakan dengan bangga menunjukkan jati diri mereka. Anak-anak kecil yang berkeliaran di sepanjang jalan dengan pakaian lusuh dan tanpa sepatu mondar mandir dengan air muka mereka masing-masing. Terkadang aku menemukan mereka tengah tertawa lepas atau tidak jarang pandanganku mendapati mereka tengah duduk tertegun dengan murung atau sekedar tidur-tiduran di sebuah bangku taman dengan raut yang tanpa ekspresi – seakan pedalamannya sudah terlanjur mati rasa. Belum lagi pementasan seni tradisional yang selalu mewarnai malam minggu seiring dengan dentuman bas dan drum serta teriakan penyanyi dari band-band indie terdengar menimpali satu sama lain tanpa ada pretense untuk saling mengungguli. Semuanya punya tempat dan punya peminatnya sendiri-sendiri. Dan aku masih belum jenuh mengitari setiap penjurunya : karena dalam tiap-tiap sudutnya terhampar berbagai macam bentangan ketidakteraturannya.

Akhirnya! Festival Kesenian Yogyakarta. Ya, aku dan partner seringkali menghabiskan sore dengan melihat-lihat pameran yang ada. Seni lukis, benda rajutan, perkakas dari alumunium baik yang baru dan tua, stand tato permanent dan temporer, kesenian wayang, berbagai aneka aroma-therapy, pernak-pernik dan akseseoris bagi mereka ynang feminim dan maskulin, berbagai komunitas hobi; mulai dari pecinta barang-barang antik sampai para pemuja factory outlet, termasuk beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat yang ikut meramaikan festival. Hamper semuanya punya ruang untuk menunjukkan kediriannya masing-masing, entah individual ataupun institusi.

Ya, hampir semuanya. Di kota yang membiarkan sebentuk penghayatan rasa untuk dieksplorasi, aku masih merasa ruangku tiba-tiba menyempit dengan desakan mata yang tidak ramah yang seolah-olah tengah menginspeksi penampilanku dari ujung rambut hingga ujung sepatuku. Seolah-olah aku adalah manusia yang benar-benar berbeda dengan mereka. Tapi mengapa mereka mentolelir laki-laki gondrong dengan aksesoris serba mengkilat di leher dan pergelangannya plus tato yang berhamburan di sekujur tubuhnya? Apa karena penampilannya yang seperti itu yang mereka asosiasikan sebagai preman setempat sehingga raut mereka menjadi begitu diterima? Dan aku; perempuan yang merasakan kenyamanan tersendiri dengan gaya maskulinku tiba-tiba menjadi penganggu kesedapan mata mereka. Sudah memudarkah label kota budaya dalam tiap-tiap isi kepala orang-orang Jogja? Atau malah aku yang salah mengartikan keberagaman yang tengah terjadi sebagai hal yang sudah dengan sendirinya diterima oleh masyarakat? Atau malah keberadaanku sebenarnya tidak pernah mereka perhitungkan dalam bagian dari semesta pluralitas budaya?

Dan aku masih terus berjalan. Membiarkan kesadaranku dihujani terus oleh mereka yang tanpa ragu menunjukkan kekhasan mereka masing-masing. Yang membiarkan aura mimpi dan obsesi mereka lebur dalam udara yang terhirup sejuk olehku. Mungkin ini bagian dari pemberontakan mereka terhadap keseragaman atau teriakan sumbang mereka terhadap kondisi yang terlalu terstruktur. Dan aku? Aku tengah menggugat mereka yang dengan seenaknya melemparku ke pinggiran zaman dan memberikan cap minoritas di dahiku. Aku tengah mempertahankan ruangku sebagai manusia di saat mereka mengunci rapat gerbang keberagaman sehingga aku tidak bisa masuk ke dalamnya. Aku tengah menyuarakan isi kepala dan pedalamanku saat mereka sibuk dengan dunianya sendiri seolah-olah merekalah pemilik keberagaman sejati itu. Aku memang berbeda – seperti aku menghayati bahwa setiap manusia memang berbeda – tapi aku bukan seorang skizofrenik yang tidak mampu melewati tembok-tembok tinggi yang kubangun sendiri.

Dalam keheninganku – aku biasa mendapatinya ketika aku membiarkan diriku tenggelam dalam kedirianku – aku mempreteli setiap identitas yang melekat pada ke-aku-anku. Memberi kesempatan bagi kesadaran dan bawah sadarku untuk saling bertanya tanpa perlu mempedulikan siapa aku. Mempersilakan mereka untuk beropini tentang diriku. Kesadaranku berkata bahwa aku adalah Tanda Tanya abadi – sebuah keraguan yang tidak akan pernah terpuaskan di gorong-gorong semesta yang menawarkan makna yang terus menerus tertunda. Dan bahwa sadarku berbisik dengan suara pelannya yang tersamar namun tegas. Bahwa aku adalah kontradiksi – antara absurditas dan kerinduan teramat terhadap kepastian.

Aku terbangun dari penelusuran diri saat partner memegang tanganku. Sore hamper habis dan bersiap untuk menyerahkan tahta sementaranya pada malam. Festival Kesenian Yogyakarta semakin ramai didatangi. Dengan kerlap kerlip dan temaram lampu yang mewarnai suasana Benteng Vredeburg. Kontras. Antara kebaruan dan sisa-sisa sejarah yang misterius. Aku berjalan menuju pintu keluar festival dengan wajah yang kuangkat tinggi-tinggi, dengan tidak memberi sejenak pun celah untuk tertunduk menerawang petak-petak ubin batu, membiarkan setiap orang lewat untuk sekedar melihat selintas kepadaku atau menatap tajam dengan senyuman sinis atau tawa yang meledek.

Karena aku manusia yang sepatutnya berbeda, maka aku masih menggilai Yogyakarta sampai ke sudut terkumuhnya, bisikku dalam hati sambil membalas genggaman partner.

@Edith Weddel, SepociKopi, 2008

Perjalanan Surealis

Oleh Oryza Sativa

Aku masih berumur enam atau tujuh tahun saat kedua nenekku sering berkata, “kamu akan selalu berjalan ke tempat-tempat yang jauh.” Entah apa maksud mereka saat itu, namun sebagai anak kecil, aku cukup girang mendengarnya. Tempat-tempat jauh, terdengar menarik, menantang, dan seksi. Dan kini setelah empat belas tahun lewat, aku mulai menyadarinya. Bahkan terkadang aku merasa hidupku bukan untuk menetap di suatu tempat yang pasti. Mungkin aku lebih cocok tinggal di Mongolia dan bergabung dengan suku nomad-nya.

Semua dimulai ketika akhirnya aku pergi dari Balikpapan. Pergi jauh-jauh dari keluarga dan masa lalu disana. Bukannya sedih, aku dengan gembira menerima kenyataan itu. Kelewat gembira, malah. Sampai-sampai saat dikunjungi aku merasa tidak nyaman. Mauku tidak usah dikunjungi dan biarkan aku berpetualang dengan hidupku seliar mungkin. Tapi namanya keluarga, mana mungkin?

Singkatnya, darisanalah perjalanan-perjalanan kecilku dimulai. Kecil-kecil namun selalu meninggalkan bekas. Selalu ada perasaan yang membuatku ingin dan ingin berjalan lagi. Aku tidak peduli di tempat itu tidak ada listrik atau mal atau apalah, yang penting berjalan. Karena ada rasa dalam perjalanan yang selalu bisa membuatku mengevaluasi total hidupku, mengadakan perencanaan matang untuk ke depan, dan mengembalikan semangat-semangat yang hilang. Bahkan, menyembuhkan sakit hati dan sakit jiwa.

* * * *

Perjalanan yang akan kuceritakan di sini memang bukan perjalanan surealis pertamaku. Tetapi ini salah satu yang paling penting. Masih segar perjalanan ini, baru kulakukan bulan Juni kemarin, saat merayakan ulang tahun Bebi. Perjalanan ini juga, akhirnya mewujudkan salah satu hasrat terpendamku.

Biarlah orang-orang naik bis atau pesawat menuju Bali. Aku tidak terlalu tertarik dengan kedua tawaran itu. Selain uang pas-pasan, sejak dulu aku lebih penasaran jalan-jalan ke Bali dengan cara estafet yang lebih manual. Maka lima hari sebelum ulang tahunnya, aku minta diantar temanku ke stasiun untuk mengecek jadwal kereta. Disana kutemukan jadwal yang efektif dan efisien, juga berbonus sunrise, dengan perkiraan biaya tidak akan melebihi Rp. 150.000,-.

Ulang tahun Bebi hari Sabtu, aku berangkat hari Rabu sore. Dengan kereta bisnis Sancaka Sore menuju Surabaya, seharga Rp. 50.000,-, berangkat pukul 16.00. Berdebar juga dadaku, mengingat saat itu adalah pertama kalinya aku berangkat dengan cara begituan dan sendirian. Aku sama sekali tidak punya gambaran dengan jaminan keamanan yang akan kudapatkan selama perjalanan.

Dari Jogja ke Surabaya, ya, tentu saja melewati desa-desa kecil di sepanjang Jawa Tengah-Jawa Timur. Bolak-balik yang kulihat adalah rumah, hutan, sawah, dan sungai-sungai kecil. Terkadang gunung di kejauhan. Sungguh, aku nyaris tidak sanggup menulis karena terpana. Hijau-kuning-oranye bermain-main di udara dan angin mendesir-desir menemaniku lewat jendela. Kalau saja urat maluku sudah benar-benar putus, mungkin aku rela lompat-lompat di kereta saking senangnya hatiku. Tapi tidak, aku menikmatinya dengan mengeluarkan buku dan menyalakan sebatang rokok. Kusesap benar-benar racun dari rokok itu (bukannya udara), sampai ufuk pelan-pelan menelan si matahari. Gelap pun menyelinap mengisi langit.

Lantas, aku tiba di Stasiun Gubeng Surabaya pukul 22.00. Langsung mencari tiket kereta berikutnya ke Banyuwangi. Ada dua pilihan, Surabaya-Denpasar atau Surabaya-Banyuwangi. Aku sempat bingung, tapi kemudian mengikuti kata hatiku untuk membeli yang Surabaya-Banyuwangi saja, kereta bisnis Mutiara Timur seharaga Rp. 40.000,-. Uangku jelas-jelas tidak cukup untuk pilihan yang pertama. Aku menunggu sekitar setengah jam, dan kereta berangkat pukul 22.30. Berbeda dengan kereta sebelumnya, kereta jurusan Bayuwangi itu penuh. Aku tidak punya lagi tempat duduk kosong yang bisa dimonopoli seperti di kereta sebelumnya. Belum lagi derita duduk bersebelahan dengan bapak-bapak yang tidurnya, sumpah, rese banget.

It's fine. Fine. Paginya aku punya kompensasi sempurna untuk semua acara duduk di kereta yang melelahkan, yang membuat pantatku tepos. Aku tiba di Stasiun Ketapang, Banyuwangi pukul 05.00. Agenda pertama adalah cuci muka dan pipis. Kemudian di luar, tukan becak dan ojek menyerbu, menawari tumpangan sampai ke stasiun. Bahkan ternyata ada bis yang bisa langsung mengantarku ke Denpasar. Ketika kutanya biayanya (Rp. 50.000,-), aku langsung menolak. Uang di kantongku hanya tinggal Rp. 30.000,- sekian. Kemudian aku teringat kata seorang kawan dekatku, bahwa jarak stasiun dan penyeberangan tidak terlalu jauh dan akan sangat menyenangkan kalau berjalan kaki ke sana.

Kutanyakan arah jalannya pada seorang tukang becak yang ngotot menawari becak dengan mengatakan “Jauh lho, Mbak. Jauh lho, Mbak.” Tapi aku ngotot jalan kaki. Lurus saja, lalu belok kanan. Segar bukan main udaranya! Dalam sesaat, jiwa kelinciku keluar. Berhubung jalan masih sepi, aku berjalan zig-zag dan terkadang lompat-lompat. Yiha! Lalu lihatlah! Penyeberangannya sudah di depan mata, sebentar lagi aku bisa memeluk Bebi! Aku membeli tiket yang kusangka mahal harganya. Ternyata hanya Rp. 6000,-. Ya ampun... Serunya momen-momen itu masih berlanjut lagi waktu salah seorang petugas menyuruhku lari karena kapal akan berangkat. Benar saja, waktu aku tiba di jembatan, tali-tali jangkar mulai dilepas dan aku lari-lari di jembatan, pagi-pagi buta, sambil terbahak-bahak pada diriku sendiri, sampai berhasil melompati pintu yang nyaris tertutup. Aku jelas-jelas penumpang terakhir mereka.

Lalu aku duduk di dek paling atas. Ditemani musik dangdut yang sama sekali tidak enak didengar, kubuka sarapan pagiku dengan sebotol air mineral dan rokok (lagi-lagi). Kunikmati benar-benar saat-saat sendiriku di Selat Bali. Lautnya tenang dan udara tidak dingin, melainkan sejuk. Sejuk sekali! Sambil berlayar aku ber-sms-an dengan Bebi yang ternyata sudah bangun pagi-pagi juga, bersiap-siap berangkat dari Sanur untuk menungguku di sekitar Ubung. Oh, ya ampun, tidak terperi rasanya akan ketemu Bebi lagi. Tidak sabar, tentu saja. Menggigit kuku dan goyang kaki jadi sesuatu yang tak terelakkan di atas kapal. Nervous, bok.

Tibalah saatnya menikmati sunrise. Aku pergi ke sisi lain kapal dan mendapatkan matahari yang mungkin sedang menyeringai—bukan tersenyum. Sinarnya jatuh di permukaan laut, menimbulkan efek sparkle di riak-riak kecilnya. Haleluya! Kucari sudut-sudut di kapal yang bisa memberiku hasil jepretan bagus. Tapi sayangnya, aku tidak punya kamera digital, yang ada hanya kamera handphone. Sementara aku kehilangan kabel data untuk mentransfer foto-fotoku.

Tidak sampai satu jam, pelabuhan Gilimanuk mulai terlihat.

Terharu sekali rasanya tiba di Bali lagi. Entah kenapa, sejak kunjungan pertamaku pada Bali semasa SMP dulu, rasanya ada chemistry aneh dengan pulau itu. Sebuah kedekatan yang sulit kujelaskan, tapi sepertinya waktu selalu membawaku ke sana, paling tidak, mengaitkan banyak hal dalam hidupku padanya. Sampai-sampai perempuan yang kusayangi pun, ternyata Bali totok.

Di Gilimanuk lagi-lagi aku diserbu tukang ojek dan sopir bus. Untuk amannya, aku bertanya pada pak polisi yang sedang menyapu kantor kecilnya. Dia menunjukkan padaku letak terminal bus dan katanya aku boleh bernegosiasi dengan supirnya mengenai harga sampai ke Ubung. Kemudian aku melihat supir yang sejak awal sudah mengikutiku. Kuhampiri dia yang ternyata tidak sesangar tampangnya. Berbicaranya sangat ramah dan sopan dan aku pun mengikutinya sampai ke terminal. Dia mengantarku sampai ke terminal—bukan, sampai ke minibus.
“Sampai Ubung berapa, Pak?”
“Tiga puluh, Mbak.”

Oke. Sepakat. Dalam perjalanan kuberikan uangku padanya. Rp. 30.000,- dan yang tersisa adalah Rp. 2000,- di kantongku. Dalam hati aku tertawa dan puas, begini ternyata rasanya. Aku tidak jera, malah kupikir aku ketagihan. Tentu saja aku tidak keberatan mengulanginya lagi. Maafkan aku atas panjangnya cerita ini, tetapi perjalanan dari Gilimanuk itu terlalu indah buatku. Pohon-pohon, sawah, laut, langit, bahkan pura-pura atau jalan-jalan kecil menuju desa-desa di pelosok Bali. Ya tuhan, kirimi aku geledek untuk meyakinkanku. Sepertinya, setelah lulus kuliah, aku akan benar-benar kabur ke pulau itu.

Dalam tiga jam, aku beberapa kali ketiduran saking sejuknya udara. Tidak peduli berisiknya bus itu, suara-suara orang berbicara dengan bahasa Bali menjadi pengantar tidurku. Kuhela napas lega berkali-kali, dan melengos berkali-kali juga setiap kali bangun. Setiap terbangun, kuharap aku sudah dekat dengan Denpasar tapi selalu belum. Pantatku sudah pegal sekali dan sesungguhnya aku tidak tahan duduk terlalu lama akibat sakit punggung yang kerap mendera. Aku membaca setiap tulisan di mana saja yang bisa memberi tahu dimana letakku berada dan segera meng-sms Bebi ketika aku sudah tiba di daerah Kapal. Kata Bebi, itu artinya aku sudah dekat dengan Ubung. Aku, sumpah, deg-degan akan ketemu Bebi. Pagi-pagi, belum mandi, kucel, berantakan, mirip gembel.

Entah bagaimana rupaku ketika minibusku memasuki tempat bertuliskan Terminal Ubung. Aku sampai! Dan kulihat Bebi sudah menunggu di semacam pinggiran. Lalu, lalu, dia menjemputku persis di muka pintu bus. Ya ampun, aku merasa naik kelas. Dari gembel jadi tuan putri. Bagaimana harus kulukiskan perasaan itu? Aku memeluknya erat-erat di motor dan menggigiti punggungnya sepanjang jalan dan baru berhenti saat didamprat. Aku agak-agak tidak peduli, memeluknya lagi, dan tentu saja: I LOVE YOU!

NB: total biayanya Rp. 126.000,-. Akan lebih murah dengan kereta ekonomi, tetapi waktunya tidak seefektif dan efisien seperti kereta bisnis. Mari jalan-jalan!

@Oryza Sativa, SepociKopi, 2008

Hongkong - Perjalanan Menuju Impian

Oleh: Justine Ht

Aku dan kekasihku memutuskan untuk membangun impian kami di luar negeri. Dengan segala keterbatasan yang ada kami memilih ke Hongkong. Ini negara kedua perjalanan cinta kami. Sebuah kota transit dan dari sini kami akan terus berjalan ke negara impian kami.

Di negara inilah fase terberat dalam hidup kami. Bulan-bulan pertama aku berada dalam kondisi "Udah jatuh tertimpa tangga dan keduduk kotoran kebo." Kegetiran yang begitu dalam, tapi cinta tegarkan hatiku. Kekasihku selalu ada untukku. Doanya, kesabarannya, ketulusannya membuatku bangkit dari keterpurukan. Di sinilah aku menyadari betapa berharganya arti cinta. Cinta membuat segalanya menjadi mungkin dalam hidup ini. Perlahan badai itu berlalu...

Hongkong merupakan pusat bisnis di Asia. Tapi sejak 1 Juli 1997 saat dikembalikan ke pemerintah China, banyak investor yang angkat kaki dari sini. Hongkong juga merupakan pelabuhan bebas, jadi para importir dapat mengimpor barang dari berbagai sumber yang mereka kehendaki, artinya kita akan menemukan aneka model paling mutakhir yang diimpor langsung dari pabrik dan negara asalnya.

Bagi yang punya semboyan "Shopping is my first love, but you're a close second", Hongkong adalah tempat yang tempat untuk menguras tabungan. Hongkong memiliki pasar terbuka yang sangat terkenal, di sana kita bisa menemukan segala jenis barang dengan harga miring, antara lain Ladies Market di Tung Choi Street Mongkok, Temple Street Night Market Jordan, Marble Road Market di North Point dan Cross Street Market di Wan Chai. Mal bertebaran di mana mana. Saat pergantian musim atau liburan semua mal menggelar "Big Sale". Inilah saat yang tepat untuk berbelanja cerdik.

Hongkong kurang-lebih sama seperti Jakarta dengan lautan gedung dan manusia, pepohonan menjadi barang yang langka. Kelebihannya adalah kota Hongkong tertata rapi, rumah penduduk rata-rata berbentuk apartemen dan kemacetan adalah sesuatu yang asing. Kekurangannya di sini tidak ada bajaj, ojek, asongan ataupun pedagang kaki lima. Jadinya nggak seru...


foto oleh: Justine ht

Banyak hal baru yang kami temui di sini. Kota individualis. Kota yang bebas. Semua orang bebas mengekspresikan diri. Tidak ada orang yang peduli dengan apa pun yang kita lakukan.Tapi jangan takut, polisi akan siap membantu jika kita menghadapi masalah. Tidak ada orang yang mencibir ataupun menatap curiga saat kita berjalan bergandengan tangan ataupun bersikap mesra. Bahkan tak segan mereka memperkenalkan partnernya dengan sebutan “ngo loukung”(suamiku) atau ngo lobo (istriku)“.

Bukan hal yang mengherankan jika saat duduk di restoran di sebelah kita duduk sepasang gay yang bersikap mesra atau kita mendengar percakapan di antara remaja yang mengaku gay atau lesbian. Bahkan sejak 1989 diadakan Hongkong Lesbian and Gay Film Festival (HK LGFF) yang diputar di Broadway Cinematheque, Palace IFC dan AMC Festival Walk sekitar bulan Agustus - September.

Lesbian Indonesia? Wow... hari minggu di Victoria Park, Causeway Bay mereka berseliweran kayak bajaj di Jakarta. Biasanya mereka mengganti kata lesbian dengan TB (Tomboy). Sewaktu aku di Shenzen, China, aku mengenal seorang Butchy L-mom yang bercerita banyak tentang teman-teman lesbiannya dan kelesbianannya sendiri. Mereka biasanya membentuk kelompok tersendiri dan membuat acara-acara khusus yang terkesan "Just for Fun". Menurutku fenomena ini hanya semacam eforia dari suatu keadaan. Mengikuti tren yang ada.

Victoria Park di Causeway Bay merupakan tempat ngumpul orang Indonesia saat libur. Kalo dilihat dari atas seperti cendol dalam saringan, numplek semua di sana. Emang sih di sana lengkap banget. BCA, BNI, Bank Mandiri, Konsulat Jenderal Indonesia dan toko2 yang menyediakan semua keperluan orang Indonesia. Bahkan perpustakaannya menyediakan majalah dan koran Indonesia.

Aku dan kekasihku mengawali pagi ini dengan berkunjung ke rumahNya. ST.ANDREWS CHURCH in Tsim Sha Shui. Arsitekturnya mengingatkanku akan istana dalam dongeng HC Anderson, cantik dan unik. Ada rasa damai yang mengalir saat kami bersyukur untuk kasih karunia yang diberikanNya. Biasanya kami menghabiskan waktu dengan bersantai di Kowloon Park di Tsim Sha Shui atau Butterfly Beach di Tuen Mun. Tapi kali ini kami ingin belanja beberapa kebutuhan keponakan-keponakan kami di Indonesia.

Kami naik MTR (Mass Transit Railway / Kereta bawah tanah) ke Mongkok cuma sekitar 5 menit dengan ongkos $5.4. Di sini kita tidak perlu repot membawa uang recehan untuk naik kendaraan, cukup dengan menggunakan sejenis kartu yang disebut Patadong (Octopus Card) yang bisa diisi ulang. Kartu ini juga bisa digunakan untuk berbelanja di tempat-tempat tertentu.

Belum mulai belanja, debt collector di perut sudah menagih, kami memutuskan makan di Tradisional Chinese Noodle yang rasanya sesuai dengan selera kami yang Sumatra minded, pedas dan berempah. Hongkong bukan tempat yang asyik untuk wisata kuliner. Orang sini pun lebih senang makanan luar seperti Sushi (Jepang), Dim Sum (Korea), Curry (India) ataupun makanan Eropa. Biasanya di musim dingin mereka menikmati Ta Pin Lo (Hot Pot) yang merupakan makanan khas Hongkong.

Di negara inilah kami menemukan kehidupan dan cinta kami kembali. Tidak ada lagi pertanyaan yang menyudutkan. Tidak ada lagi kebohongan dan kepura-puraan dalam menghadapi masyarakat. Tidak ada lagi kebimbangan dalam menentukan pilihan hidup. Tapi terbersit nyeri di hati saat kerinduan menyapa. Kerinduan pada orang-orang terkasih dan sahabat-sahabat terbaik, juga pada keindahan Indonesia. Seakan tak ada kompromi dari perjalanan. Terasa sebagai nasib yang tidak berpihak.

Yah selalu ada harga yang harus dibayar untuk segala sesuatu yang ingin kita capai dalam hidup ini. Yang pasti hidup terus berjalan. Lakukan yang terbaik hari ini, esok akan terjawab dengan sendirinya.

@Justine Ht, SepociKopi, 2008

Tentang Justine Ht:
Perempuan yang menemukan cintanya pada diri seorang perempuan. Bersama partnernya berkeinginan keliling dunia untuk belajar banyak hal tentang kehidupan. Feminim tapi tidak suka dandan. Penggemar kopi, film Hollywood, dan musik jazz.

Meulaboh, Kota yang Tangguh

Oleh: Arie Gere

Akhirnya sampai juga…
Masih dengan napas terengah-engah menghirup aroma pesing sialan ketika keluar dari pesawat kecil bermuatan dua puluhan orang itu, aku turun dengan ransel dan segenggam oleh-oleh khas kotaku menuju kota baru, kota Meulaboh yang akan kudiami selama tiga minggu. Meulaboh, Aceh Barat, saksi bisu tsunami.

Ah, kekasih hatiku nun jauh di sana… Sedang apa dia? Seketika itu juga kunyalakan ponsel dan tak lama terdengar ucapan syukurnya karena perjalanan 50 menit yang kulalui di atas benda kecil yang melayang ini tak terhadang kondisi apa pun.

Aku segera mengambil koper kecilku dan menaikkannya ke atas Ford Ranger yang aku yakin pasti donasi dari orang-orang bule pendonor itu. Tim kami berjumlah tiga orang, dua perempuan dan satu laki-laki. Aku dan perempuan itu jelas satu kamar dan ah... malasnya sekamar dengan perempuan ini, cerewet, jutek, uh... tape deh...

"Apa? Ranjangnya satu?” Spontan perempuan ini berteriak.
"Mas, kami pindah ke lantai dua aja, yang ranjangnya pisah," katanya.
Sudah kuduga, perempuan ini sering sekali membuat orang terkejut dengan suaranya yang mendadak dangdut mendadak ngerock, yang dB nya jauh lebih kencang dari suara orang batak sendiri.

Aku berpikir, apa karena dia yang telah mengetahui kondisi diriku sebenarnya sehingga dia wanti-wanti tidak mau seranjang denganku. Entahlah... Dan entah bagaimana juga perempuan ini akhirnya mengetahui orientasi seksualku yang ketika itu tidak dapat terelakkan lagi untuk diungkapkan. Mungkin nalar penciumannya yang teramat kuat, keingintahuannnya yang besar, keberaniannya yang kuacungkan jempol dan berbagai usaha penginterogasiannya setiap hari yang akhirnya membuatku loyo... kuncup.. Dan, terucaplah pengakuan itu... Yes, I am.

Kuingat, ocehan perempuan ini beberapa minggu yang lalu.
”Orang-orang kantor pada tahu kok,” katanya lirih.
”Yah, kamu kasih tahu sih, panteslah mereka tahu,” ucapku dengan nada tak terkejut lagi. Pengalaman kebablasan seperti ini pernah kualami ketika waktu di kampus dulu, ketika sahabat yang kupercaya sekalipun ternyata tak mampu menyimpan rahasia itu. Mulut berbicara, dinding mendengar, dan angin yang menyampaikan. Hah, sudah kuduga.

”Nggak, Ri, secerewet apa pun aku ke kamu, sejutek apa pun aku ke orang, tapi aku bukan tukang gosip.” Hatiku berkata, mudah-mudahan omongannya benar. Tapi aku benar-benar tidak perduli, ingatanku melayang pada kejadian sekitar satu tahun lalu, membekas seperti tancap pecahan botol yang kemudian ditarik paksa dan meninggalkan perdarahan tragis mengancam nyawa. Mantan pacar berengsek yang membeberkan semuanya kepada keluargaku.

”Mereka tahu karena suara di telepon kamu tuh tiap hari terdengar suara cewek,” sambungnya lagi. Yah kuakui aku emang rada budek, volume telepon genggamku terpaksa disetel maksimal. Kalau tidak, suara telepon hanya terdengar samar-samar di telingaku.

Ketika identitas diri sudah tercium oleh lingkunganku, aku berjanji tidak akan berubah. Dianggap siapa pun diriku di rumah, dianggap apa pun aku di kantor, itulah diriku. Bukan mereka yang mengubah diriku, bukan mereka yang mampu mengontrol emosi dan semangatku, bukan mereka. Karena aku bangkit untuk membuktikan pada diriku sendiri, dan bukan pada dunia, bahwa aku benar-benar ada. Aku tidak akan menjelma menjadi pegonggong yang keluyuran di malam hari, tidur di siang hari, merampok di kala senja, dan melolong di tengah lelapnya mimpi manusia. Aku adalah sang ujung tombak yang tetap akan berperang meski kakiku patah. Akan kuobati lukaku, akan kusambung agar kembali ke utuh, bila perlu kuganti semuanya dengan sparepart baru.

Apa pun pilihan hidup, semua harus kujalani dengan kesungguhan dan keihlasan. Bahwa aku ada, dan bahwa dia ada. Setitik air jatuh ke pipi dan segera ku hapus mengingat perjalanan panjang ini masih 3 minggu lagi. Aku berdiri tegak, di samping tugu Teuku Umar, memandang jauh ke Samudera Hindia dan menyadari betapa indahnya dunia ini, betapa luasnya anugerah Tuhan. Seketika itu juga aku teringat akan betapa maha dahsyatnya keajaiban Tsunami kala itu dan betapa kecilnya manusia di hadapan Sang Ilahi seperti debu terbang yang tak menentu arahnya.


Gbr 1. Rawa yang terbentuk dari sisa air laut akibat tsunami
Photo by Arie Gere – Meulaboh

”Gempa seperti itu belum pernah terjadi. Kekuatannya mahadahsyat, dan setelahnya air laut surut, hingga semua orang berlarian ke pantai, mengambil ikan-ikan di laut. Lima belas menit kemudian datang air laut setinggi pohon kelapa dan melahap semuanya.Tiga kali air laut mengempas dan melahap semua yang dilaluinya."

Aku bergidik membayangkan air laut setinggi itu menghabiskan ratusan ribu nyawa dalam sekejap, dan sekali entakan saja bisa mencampakkan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) milik PLN yang berbobot 200 ton di Banda Aceh terhempas sejauh 3 kilometer dari posisi awalnya. Ah, perih memang mengingat kembali 26 Desember itu.

”Keluarga Bapak?” tanyaku.
”Hanya Bapak yang selamat, pulang melaut tiba-tiba sudah habis semuanya.”
“Apa? Saat itu Bapak sedang di laut?” Aku terkejut bukan main, ingin bertanya lagi, ”Kok bisa selamat?” tapi rasanya sungguh tak sopan.

Tiba-tiba aku teringat gelombang tsunami bergejolak di dalam laut, bukan di permukaannya, hingga barulah sampai di bibir pantai air laut melahap semuanya. Sedangkan yang saat itu berada di laut, sebahagian besar selamat dan tidak merasakan gelombang bahaya mahadahsyat gentayangan lewat di bawah perahunya.

”Terima kasih banyak, Pak” ucapku pamit sambil menggenggam erat tangannya, semoga nyaman dengan rumah barunya. Kuamati sekali lagi rumah orang tua itu, semua tampak sama dengan rumah tetangga-tetangga sekitarnya. Dalam hati aku bersyukur karena kota yang pernah mati karena tsunami ini kembali hidup dengan datangnya donor dari berbagai negara, membangun semua infrastruktur, rumah sakit, jalan raya, dan tentu saja rumah tinggal. Peradaban sudah mulai dibangun, mental masyarakat sedikit demi sedikit mulai berubah. Bagi sebahagian besar masyarakat Aceh pedalaman, dulu, toilet di dalam rumah sungguh tidak beradab. Mereka pikir seperti tinggal di kandang kerbau, yang makan dan buang air di tempat yang sama. Akan tetapi, rumah sumbangan donor bule-bule itu tidak mungkin dibangun berpisah dengan toiletnya karena tidak ada arsitek modern yang mendesain rumah seperti itu. Dulu pun, rumah semi permanen sudah tergolong bagus di daerah ini, tapi sekarang hampir semuanya sudah permanen.

Mungkin aku saja yang berpikiran picik dan jahat atau semua orang punya pikiran seperti aku, kalau saja tsunami tidak terjadi, mungkin jalan raya yang lebar ini tidak akan pernah ada, atau rumah hunian permanen yang diberikan cuma-cuma hanya dengan menunjukkan surat keterangan dari kepala desa bahwa sang pemilik berhak atas tanah dan bangunan yang pernah hancur di atasnya mungkin tidak akan pernah sanggup dibangun oleh pemiliknya sendiri. Ternyata di dalam kesempitan pun, ada saja kesempatan-kesempatan busuk yang dimanfaatkan oleh orang-orang tamak.

Ah sudahlah, hidup harus dilanjutkan. Bila mereka saja kuat menghadapi getirnya gempa dan tsunami, ditambah lagi dengan konflik politik dengan Pemerintah, masa aku harus menyerah dengan hidup ini. Semua masalahku, semua deritaku, ternyata sangat tidak sebanding dengan penderitaan orang-orang tangguh ini, yang masih kuat bertahan hidup dengan kehilangan segala sesuatu yang pernah dimilikinya. Harta, rumah, anak, istri, orang-orang yang dicintai lenyap seketika dan hanya menyisakan sejuta kenangan dan air mata yang tak pernah habis-habisnya jika diingat.

Dan aku, tidak pernah menyesal menjadi perempuan, tidak pernah menyerah mencintai perempuan karena hidup bukanlah untuk disia-siakan, bukan untuk berpangku tangan apalagi untuk disesalkan.

@Arie Gere, SepociKopi, 2008
abcs